Jumat, 19 Maret 2010

DM

BAB II
TINJAUAN TEORITIS


A. Konsep Dasar
1. Pengertian Diabetes Melitus dan Gangren
Diabetes melitus adalah gangguan metabolik kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol yang dikarakteristikan dengan hiperglikemia karena defisiensi insulin atau ketidakadequatan penggunaan insulin (Engram, 1999 : 532).
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi nilai normal. Apabila tidak dikendalikan penyakit ini akan menimbulkan penyakit-penyakit yang dapat berakibat fatal, termasuk amputasi pada gangren (www.gangren.com).
Gangren adalah luka yang berakhir dengan kematian syaraf atau jaringan yang disebabkan oleh gangguan pengaliran darah ke jaringan tersebut, biasanya ini terjadi dalam jumlah besar dan umumnya diikuti dengan kehilangan persediaan nutrisi dan invasi bakteri, serta pembusukan (www.gangren.com)
Beberapa pengertian di atas gangren diabetes melitus adalah luka sebagai komplikasi dari penyakit diabetes melitus karena terganggunya pengaliran darah kejaringan yang menyebabkan luka membusuk, mengeluarkan pus dan bau.

2. Anatomi dan Fisiologi Pankreas
Pankreas merupakan organ yang panjang dan ramping, panjangnya sekitar 6 inchi dan lebarnya 1,5 inchi, pankreas letaknya retroperitoneal dan dibagi 3 segmen utama : kaput, corpus, dan kauda. Kaput terletak pada bagian cekung duodenum dan kauda menyentuh limpa.
Pankreas merupakan kelenjar kompleks tubulo, secara keseluruhan pankreas merupakan setangkai anggur cabang-cabangnya merupakan saluran yang bermuara pada duktus pankreas utama. Saluran-saluran utama berjalan disepanjang kelenjar, bersatu dengan ductus koledokus pada ampula vater. Sebelum masuk ke duodenum saluran tambahan ductus santorini ditemukan berjalan dari kaput pankreas masuk ke duodenum sekitar 1 inchi di atas papila duodenum.

Gambar 2.1 Pankreas
(Sumber : Brunner & Suddarth, 2002 : 1150)

Adapun fungsi pankreas dibentuk dari dua sel dasar yang mempunyai fungsi sangat berbeda, sel-sel esokrin yang berkelompok-kelompok disebut asini menghasilkan unsur-unsur getah pankreas sel-sel endokrin atau pulau langerhans menghasilkan sekret endokrin insulin dan glukosa yang penting untuk metabolisme karbohidrat.

Gambar 2.2. Anatomi Fisiologi Pankreas
(Sumber : Guton 1995 : 609)

3. Tanda dan Gejala
a. Gejala Akut
Gejala akut penderita diabetes melitus tidaklah sama, gejala yang disebutkan di bawah ini adalah gejala yang umumnya timbul dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya variasi gejala-gejala lain bahkan ada penderita diabetes melitus yang tidak menunjukkan gejala apapun sampai saat tertentu pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi tiga serta banyak, yaitu banyak makan, banyak minum, dan banyak kencing. Bila keadaan berlanjut dan tidak diobati dengan cepat akan timbul gejala yang disebabkan kurangnya insulin, yaitu banyak minum dan sering kencing, berat bedan menurun, dan mudah lelah.
b. Gejala Kronik
Gejala kronik diabetes melitus timbul setelah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit diabetes yang menyebabkan luka gangren, gejala tersebut diantaranya :
1. Kesemutan, kulit terasa panas atau seperti ditusuk jarum.
2. Rasa tebal dikulit, kram, mudah lelah dan ngantuk.
3. Mata kabur, biasanya sering diganti kacamata
4. Gatal sekitar kemaluan pada wanita.
5. Gigi mudah lepas dan musah goyah.
6. Kemampuan seksual pada pria menurun sampai impoten.
7. Nyeri saat istirahat.
8. Kerusakan jaringan (nekrotik).

4. Etiologi
Diabetes Melitus ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas kombinasi faktor genetik, imunologi dan mungkin oleh lingkungan (misalnya infeksi virus) diperkirakan turut menimbulkan destruksi sel beta.
Faktor-faktor imunologi pada diabetes melitus terdapat bukti adanya suatu proses autoimun. Respon ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan asing.
Faktor-faktor lingkungan hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta (Brunner dan Sudarth, 2002 : 1224).
Penderita penyakit diabetes melitus yang kurang terkontrol akan cenderung untuk menjadi pertumbuhan bakteri, terutama bakteri golongan mikrobakteri dan anerob yang perannya cukup besar, yaitu bekerja secara sinergis dalam pembentukan gas kemudian menjadi gangren. Disamping itu gangren akan mengalami infeksi akibat munculnya lingkungan gula darah yang subur untuk berkembangnya bakteri-bakteri patogen. Karena kekurangan suplai oksigen bakteri akan tumbuh besar (www.gangren.com).
5. Patofisiologi
Diabetes melitus terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beserta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun hiperglikemia terjadi akibat glukosa yang tidak teratur oleh hati disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia post prandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali glukosa yang tersaring keluar : glukosa yang berlebihan diekskresikan ke dalam elektrolit yang dinamakan diuresisosmotik.
Kehilangan cairan yang berlebihan akan mengalami peningkatan berkemih (poliuri) dan rasa haus (polidipsi). Akibat menurunnya simpanan kalori (gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan).
Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glukogenosis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta substansi lain) namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan terjadi hiperglikemia pemecahan lemak dapat mengakibatkan produksi badan-badan keton meningkat. Badan-badan keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan akan mengakibatkan ketoasidosis. Ketoasidosis diabetik menimbulkan gejala nyeri abdomen, mual muntah hiperpentilasi nafas berbau keton, bila tidak ditangani menimbulkan perubahan kesadaran bahkan kematian.
6. Manajemen Medik Secara Umum
Untuk mencapai kontrol gula darah yang baik, maka pengobatan diabetes melitus dengan menggunakan pemberian insulin, sedangkan untuk pengobatan gangren menggunakan antibiotik. Disamping itu dibutuhkan juga pengaturan diet dan olahraga.
a. Diet
Diet diabetes melitus merupakan sesuatu yang paling penting dalam pengobatan diabetes melitus, tujuan pemberian diet diabetes melitus adalah untuk mempertahankan Ph ideal pasien atau setidaknya meningkatkan berat badan, untuk mencapai nilai glukosa darah yang normal, mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis dan hiperglikemi serta mencegah komplikasi degeneratif diabetes melitus. Syarat diet ini ditentukan oleh umur, jumlah karbohidrat disesuaikan dengan tubuh untuk penggunaannya. Pemberian makanan disesuaikan dengan jenis obat yang dipakai jika berupa tablet atau suntikan 3 x sehari. Sebagai pedoman digunakan diet diabetes melitus sebagai berikut :

Tabel 2.1.
Macam-macam diet diabetes melitus (I-VII)
Macam Diet Kal
(kal) Protein
(gm) Lemak Karbohidrat
(gram)

I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII 1100
1300
1500
1700
1900
2100
2300
2500 50
55
60
65
70
80
85
90 30
35
40
45
50
55
60
65 160
195
225
260
300
325
350
390
(Sumber : Penuntun Diet)

Keterangan
Diet I-III Diberikan pada pasien yang terlalu gemuk
Diet IV-V Diberikan pada pasien yang mempunyai BB normal
Diet VI-VII Diberikan pada pasien dengan BB kurus Diabetes Juvenil atau diabetes dengan komplikasi.

b. Olahraga
Olahraga merupakan komponen penting dalam pengobatan diabetes melitus, keuntungannya bisa meningkatkan sensitivitas insulin, potensial peningkatan toleransi glukosa pada beberapa pasien, meningkatkan kehilangan berat badan dan meningkatkan status kardiovaskuler memerlukan nilai kolesterol dan trigliserida potensial penurunan insulin dan obat anti diabetik serta meningkatkan kebugaran. Faktor yang harus dipertimbangkan mencakup tipe diabetes, usia, kondisi medis pasien, dan perubahan keberadaan degeneratif dalam waktu yang lama.

7. Dampak
a. Dampak Pada sistem Cardiovaskuler
Penyakit arteri coroner : perubahan aterosklerosis dalam pembuluh arteri koroner menyebabkan peningkatan indent infak miokard pada penderita diabetes melitus terdapat gejala iskemik yang khas seperti sakit dada 50% hingga 60% dapat menyebabkan kematian. (Brunner & Suddarth, 2002 : 1268).
Pengecilan lumen pembuluh darah besar membahayakan pengiriman oksigen kejaringan-jaringan dan dapat menyebabkan iskemia jaringan dengan akibat yang timbul berupa penyakit serebrovaskuler, penyakit arteri koroner, stenosis arteri, dan penyakit-penyakit vaskuler perifer (Barbara C Long, 1997 : 14) akibatnya dapat timbul gejala penyakit serebrovaskuler.
b. Dampak Pada Sistem Pernafasan
Pada keadaan ketoasidosis yang disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak mencukupi akan menyebabkan nafas berbau aseton, hiperventilasi, pernafasan kusmaul. Pernafasan kusmaul menggambarkan upaya tubuh mengurangi asidosis guna melawan efek dari pembentukan badan keton akibatnya pada klien akan mengalami gangguan pola pernafasan (Brunner & Suddarth, 2002 : 1259).
c. Dampak Pada Sistem Pencernaan
Pada keadaan hiperglikemi akan terjadi pemecahan lemak sehingga asam-asam lemak meningkat, badan keton meningkat, menyebabkan nafas berbau aseton sehingga selera makan buruk, anoreksia, mual muntah, konstipasi hingga nyeri abdomen (Brunner & Suddarth, 2002 : 1254). Akibatnya klien mengalami perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
d. Dampak Pada Sistem Perkemihan
Apabila jumlah insulin berkurang maka jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula. Disamping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Kedua faktor ini menyebabkan hiperglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa, ginjal akan mengeksresikan glukosa bersama-sama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalsium) diuresis osmotik yang ditandai dengan urinasi berlebihan (Poliuri) akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. (Brunner & Suddarth, 2002 : 1258). Akibatnya akan mengalami perubahan pola eliminasi BAK, resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
e. Dampak Pada Sistem Persyarafan
Diabetes melitus dapat mempengaruhi saraf-saraf perifer, sistem saraf otonom, medula spinalis atau sistem saraf pusat. Jenis neuropati yang lazim ialah polineuropati perifer simetris terlihat dengan hilangnya sensasi pada ujung-ujung saraf ekstremitas bawah, kemudian hilangnya kemampuan motorik bahkan ekstremitas atas akan terjadi. Akibatnya akan mengalami luka yang tak sembuh-sembuh (Gangren).
f. Dampak Pada Sistem Muskoloskeletal
Klien dapat mengalami gangguan mobilisasi karena kelemahan atau akibat amputasi jika luka gangren tak sembuh-sembuh atau jika luka gangren mengalami perluasan sampai ke tulang (Brunner & Suddarth, 2002 : 1276). Akibat yang ditimbulkan intoleransi aktivitas dan gangguan rasa nyaman nyeri.
g. Dampak Pada Sistem Integumen
Pada diabetes melitus yang tidak terkontrol akan mengalami penurunan resistensi terhadap infeksi (Brunner & Suddarth, 2002 : 1276). Akibat yang ditimbulkan yaitu kerusakan integritas kulit dan jaringan.
h. Dampak Psikososial
1) Dampak Psikologis
Biasanya klien dengan gangren diabetes melitus merasa cemas akan keadaan penyakitnya atau takut terjadinya amputasi jika luka gangren tidak sembuh-sembuh atau mengalami perluasan sampai ke tulang.
2) Dampak Seksual
Dapat menyebabkan disfungsi seksual yang disebabkan oleh karena kerusakan secara mikroskop dari jaringan saraf.
3) Dampak Terhadap Pekerjaan
Klien terancam kehilangan pekerjaan yang disebabkan oleh karena penurunan kemampuan fisik akibat luka gangren yang tak sembuh-sembuh.
4) Dampak Sosial
Gangguan sosial disebabkan oleh adanya prosedur amputasi karena luka gangren yang tak sembuh-sembuh atau mengalami perluasan sampai ke tulang.

B. Proses Keperawatan
Proses keperawatan terdiri dari 4 tahap yaitu pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi yang masing-masing saling berkaitan satu sama lainnya.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap pertama proses keperawatan dimana data dikumpulkan (Doengoes, ME, 1998 : 14).
a. Pengumpulan Data
1) Identitas Klien mencakup : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat, diagnosa medis, no. RM, tanggal masuk, tanggal pengkajian dan ruangan tempat klien dirawat. Identitas penanggungjawab mencakup : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama merupakan keluhan klien pada saat dikaji dan bersifat subjektif (Arif Mansjoer, 1999 : 434). Pada klien diabetes melitus sering terdapat triaspoli yaitu : polipagi, polidifsi, dan poliuri. Selain itu sering juga keluhan penurunan BB dan adanya luka yang tidak sembuh-sembuh (Gangren).
b) Riwayat Kesehatan Sekarang
Dikembangkan dari keluhan utama dengan menggunakan PQRST
Paliatif : Apa yang menjadi penyebab hal-hal yang meringankan dan memperberat.
Qualiti : Seberapa berat keluhan terasa, bagaimana rasanya, seberapa sering terjadi.
Region : Lokasi keluhan ditemukan atau dirasakan apakah menyebar ke arah lain/daerah area penyebaran.
Severity : Skala kegawatan (GCS untuk gangguan kesadaran) nyeri dengan menggunakan skala 1-10.
Time : Kapan keluhan tersebut dirasakan/ seberapa sering keluhan tersebut dirasakan atau terjadi, apakah terjadi secara mendadak atau bertahap. (Depkes).

c) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada kasus ini dikaji riwayat kesehatan masa lalu, kaji tentang pola makan, kaji adanya riwayat obesitas, sering stress, penyakit sistemik lain seperti hipertensi atau ginjal. Kaji apakah klien pernah terinfeksi virus, terutama menyerang pankreas, kaji apakah pernah menggunakan obat-obatan atau alkohol.
d) Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga yang lain yang menderita gangren, diabetes melitus atau penyakit sistemik lainnya apabila ada buat genogram.



3) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan teknik infeksi, palpasi, perkuasi, auskultasi.
a) Sistem Pernafasan
Kaji apakah klien merasa sesak (seperti pernafasan kusmaul) dimana hal ini dapat terjadi pada klien dengan Diabetes Melitus yang sudah lama dengan komplikasi kelainan jantung dan adanya oedema.
b) Sistem Kardiovaskuler
Data yang dikaji adalah tekanan darah, nadi (frekuensi, irama), warna konjungtiva, bunyi jantung, kehangatan ekstremitas, capirely refil time dan biasanya terjadi kelelahan, serta kelainan jantung dapat terjadi pada penderita stadium lanjut.
c) Sistem Pencernaan
Kaji apakah klien mengalami penurunan atau kenaikan berat badan, dan apakah klien merasa mudah lapar (poliphagia).
d) Sistem Perkemihan
Biasanya mengalami glukosuria dan polidipsi pada stadium lanjut biasanya klien sering kencing dimalam hari dan terjadi kerusakan ginjal, untuk sistem reproduksi terjadi disfungsi seksual.
e) Sistem Muskuloskeletal
Klien dapat mengalami gangguan mobilisasi karena kelemahan atau akibat amputasi jika luka gangren tidak sembuh-sembuh.
f) Sistem Integumen
Biasanya turgor kulit menurun, bisul, gatal-gatal, luka yang tak sembuh-sembuh (gangren) dan ada penurunan suhu tubuh.
g) Sistem Endokrin
Kaji apakah ada triaspoli di antaranya poliphagi, polidispi, dan poliuri.
h) Sistem Persarafan
Kaji apakah klien mengalami penurunan fungsi sensori motorik dan cranial.
4) Pola Kebiasaan
Kaji kebiasaan klien seperti pola makan, minum, pola eliminasi, pola istirahat, tidur pola personal hygiene, dan pola aktivitas.
5) Data Psikososial
Kaji mengenai konsep diri, status emosi dan kecemasan. Konsep diri ada 5 komponen yaitu :
a) Body Image / gambaran diri
Mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk dan potensi tubuh saat ini setelah adanya perubahan pada tubuh karena amputasi luka yang tidak sembuh-sembuh (gangren).
b) Harga Diri
Yaitu penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh memenuhi ideal diri, aspek utama adalah dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain.
c) Ideal Diri
Yaitu standar yang berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita dan nilai yang ingin dicapai setelah adanya prosedur amputasi akibat luka yang tidak sembuh-sembuh atau penyakit yang menahun.
d) Peran
Yaitu pola sikap, prilaku dan nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang setelah adanya perubahan tubuh (amputasi) berdasarkan posisinya dikeluarga ataupun di masyarakat.
e) Identitas
Yaitu kesadaran akan diri sendiri setelah adanya perubahan pada tubuh (amputasi) akibat luka yang tidak sembuh-sembuh yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan suatu sintesi dari semua aspek konsep diri.
6) Data Sosial
Pada aspek ini perlu dikaji mengenai hubungan klien dengan keluarga, tetangga, masyarakat, dan perawat ruangan.
7) Data Spiritual
Kaji tentang pengetahuan klien terhadap penyakitnya apakah merupakan suatu cobaan atau kutukan, kaji juga tentang harapan klien terhadap penyakit dan penyembuhannya.
8) Data Penunjang
Glukosa Darah : Meningkat 100-200 mg/dl atau lebih
Aseton Plasma (keton) : Positif secara mencolok
Asam lemak bebas : Kadar lipid dan kolesterol meningkat.
Osmolaritas serum : Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mosm/L
Natrium : Mungkin normal, meningkat atau menurun.
Kalium : Normal atau meningkat semu (perpindahan seluler) selanjutnya menurun
Gas darah arteri : Menunjukkan Ph rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkohol reiratorik.
Urium /kreatinin : Mungkin meningkat atau normal (dehidrasi) atau penurunan fungsi sinyal.
Amilase darah : Mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut.
Insulin Darah : Mungkin menurun bahkan sampai tidak ada.
Kultur dan Sensitivitas : Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernafasan dan infeksi pada luka.

9) Analisa Data
Analisa data adalah menghubungkan data yang diperoleh dengan konsep teori dan prinsip asuhan keperawatan yang relevan dengan kondisi klien membandingkan data dan menentukan adanya kesenjangan data, serta membuat kesimpulan tentang masalah yang ada.
10) Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau potensial (Doengoes 2000 : 8). Diagnosa yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan sistem endokrin : gangren diabetes melitus adalah :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hiper metabolisme : pelepasan hormon stress (misalnya epineprin kortisol, dan hormon pertumbuhan infeksius).
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan : kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi leukosit, perubahan pada sirkulasi.
4. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kimia endogen/insulin dan elektrolit.
5. Kelelahan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi : Status hipermetabolik atau infeksi.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenalnya sumber informasi.
7. Gangguan body image berhubungan dengan hilangnya anggota tubuh.




2. Perencanaan
Perencanaan merupakan petunjuk untuk penanganan aktivitas dan tindakan yang membantu klien dalam mencapai hasil yang diharapkan (Doengoes, 2000 : 720). Adapun rencana tindakan berdasarkan diagnosa keperawatan yang timbul pada klien dengan gangren diabetes melitus adalah :
a. Diagnosa Keperawatan ke-1
Tujuan : mempertahankan hidrasi yang adequat
Intervensi Rasional

1. Dapatkan riwayat pasien atau orang terdekat sehubungan dengan lamanya/ intensitas dari gejala seperti muntah, pengeluaran urine yang berlebihan.




2. Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik.



3. Pantau suhu, warna kulit dan atau kelembaban.

4. Kaji nadi periper pengisian kapiler turgor kulit dan mukosa

5. Ukur berat badan setiap hari

6. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung. Jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan. 1. Membantu dalam memperkirakan kekurangan volume total, tanda dan gejala mungkin sudah ada pada beberapa waktu sebelumnya (beberapa jam sampai beberapa hari). Adanya proses infeksi mengakibatkan demam dan keadasan hipermatabolik yang mengakibatkan kehilangan cairan tidak kasat mata.
2. Hipopolemik dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia. Perkirakan berat ringannya hipopolemia dapat dibuat ketika tekanan darah sistolik pasien turun dari 10mm/Hg dari posisi berbaring ke posisi duduk atau posisi berdiri.
3. Meskipun demam, menggigil dan diaforesis merupakan hal umum terjadi pada proses infeksi, demam dengan kulit kemerahan, kering mungkin sebagai cermin dehidrasi.
4. Merupakan indikator dari tingkat indikasi atau volume sirkulasi yang adequat.
5. Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
6. Mempertahankan hidrasi atau volume sirkulasi.

b. Diagnosa Perawatan ke-2
Tujuan : mempertahankan berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya/yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal
Intervensi Rasional

1. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.

2. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.

3. Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/ perut kembung mual, muntah makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.

4. Berikan makanan cairan yang mengandung zat makanan/nutrien dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui pemberian cairan, melalui oral, dan selanjutnya terus mengupayakan pemberian makanan yang lebih padat sesuai dengan yang dapat ditoleransi.

5. Identifikasi makanan yang disukai termasuk kebutuhan etnik, kultur.

6. Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan pasien sesuai dengan indikasi.

7. Melakukan konsultasi dengan ahli diet.

1. Mengkaji asupan makanan yang adequat.


2. Mengindikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.

3. Hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas fungsi lambung/(distensi paralitik)

4. Pemberian melalui oral lebih baik jika pasien sadar dan fungsi gastrointestinal baik.

5. Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan kerjasama ini diupayakan setelah pulang.

6. Meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.

7. Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.

c. Diagnosa Keperawatan ke-3
Tujuan : Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi.
Intervensi Rasional

1. Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulen urine warna keruh atau berkabut.

2. Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri
3. Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh, masage daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering dan tetap kencang (tidak berkerut).
4. Bantu pasien untuk melakukan oral higiene.
5. Anjurkan untuk makan dan minum dengan adequat (pemasukan makanan dan cairan adequat) (kira-kira 3000 ml/hari jika tidak ada kontra indikasi).



6. Kolaborasi bersama dokter untuk pemberian obat antibiotik yang sesuai. 1. Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.

2. Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nasokomial).


3. Sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada peningkatan resiko terjadinya kerusakan pada kulit/ iritasi kulit dan infeksi.
4. Menurunkan resiko terjadinya penyakit mulut/gusi.
5. Menurunkan terjadinya penyakit mulut/ gusi. Meningkatkan aliran urine untuk mencegah urine yang statis dan membantu dalam mempertahankan Ph/keasaman urine, yang menurunkan pertumbuhan bakteri dan pengeluaran organisme dari sistem organ tersebut.
6. Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.

d. Diagnosa Keperawatan ke-4
Tujuan : Mempertahankan tingkat mental biasanya
Intervensi Rasional

1. Pantau tanda-tanda vital dan status mental.



2. Panggil pasien dengan nama, orientasikan kembali sesuai dengan kebutuhannya, misalnya terhadap tempat, orang dan waktu. Berikan penjelasan yang singkat dengan berbicara perlahan dan jelas.
3. Jadwalkan intervensi keperawatan agar tidak terganggu waktu istirahat pasien.
4. Pelihara aktivitas rutin pasien sekonsisten mungkin, dorong untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuan-nya.
5. Berikan tempat tidur yang lembut, pelihara kehangatan kaki/tangan, hindari terpajan terhadap air panas atau dingin atau penggunaan bantalan/ pemanas.



6. Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi. 1. Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abormal, seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental.
2. Membantu kebingungan dan membantu untuk mempertahankan kontak dengan realitas.


3. Meningkatkan tidur, menurunkan rasa letih, dan dapat memperbaiki daya pikir.
4. Membantu memelihara pasien tetap berhubungan dengan realitas dan mempertahankan orientasi pada lingkungan.
5. Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan kemungkinan kerusakan kulit karena panas. Munculnya dingin yang tiba-tiba pada tangan dan kaki dapat mencerminkan adanya hipoglikemia, yang perlu untuk melakukan pemeriksaan terhadap kadar gula darah.
6. Meningkatkan keamanan pasien terutama ketika rasa keseimbangan dipengaruhi


e. Diagnosa Keperawatan ke-5
Tujuan : Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
Intervensi Rasional

1. Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas. Buat jadwal perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan.
2. Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup/ tanpa diganggu.
3. Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sebelum/ sesudah melakukan aktivitas.
4. Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.


5. Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat ditoleransi. 1. Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.

2. Mencegah kelelahan yang berlebih.

3. Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.

4. Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan.
5. Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.








f. Diagnosa Perawatan ke-6
Tujuan Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit dan melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi Rasional

1. Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian, dan selalu ada untuk pasien.

2. Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan.


3. Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah.



4. Identifikasi gejala hiperglikemia (misal : lemah, pusing letargi lapar, peka terhadap rangsangan, diaforesis, pucat takikardi, tremor, sakit kepala, dan perubahan mental) dan jelaskan penyebabnya. 1. Menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar.

2. Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerjasama pasien dengan prinsip-prinsip yang dipelajari.
3. Kesadaran tentang pentingnya kontrol diet akan membantu pasien dalam merencanakan makan/ menaati program. Serat dapat memperlambat absorbsi glukosa yang akan menurunkan frekuensi kadar gula dalam darah.
4. Dapat meningkatkan deteksi dan pengobatan lebih awal dan mencegah/ mengurangi kejadiannya. Hiperglikemia saat bangun tidur dapat mencerminkan fenomena fajar (indikasi perlunya insulin tambahan) atau respons balik pada hipoglikemia selama tidur.

g. Diagnosa Perawatan ke-7
Tujuan : Menyatakan masalah dan menunjukkan cara yang sehat untuk menghadapinya.
Intervensi Rasional

1. Beri waktu untuk mendengarkan masalah diskusikan persepsi diri klien sehubungan dengan antisipasi perubahan dan pola hidup khusus.
2. Kaji stress emosi klien. Identifikasi kehilangan pada orang terdekat. Dorong klien untuk mengekpresikan dengan cepat.

3. Beri informasi yang akurat, kuatkan informasi yang diberikan sebelumnya.
4. Ketahui kekuatan individu dan indikasi perilaku koping positif sebelumnya. 1. Memberikan minat dan perhatian memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan konsep.

2. Perawat perlu menyadari apakah tindakan ini terhadap pasien untuk menghindari tindakan kurang hati-hati atau terlalu menyendiri.
3. Memberikan kesempatan klien untuk bertanya dan mengasimilasi informasi.
4. Membantu dalam membuat kekuatan yang telah ada bagi pasien untuk digunakan dalam situasi saat ini.

3. Implementasi
Pelaksanaan merupakan perwujudan dari rencana asuhan keperawatan, meliputi tindakan-tindakan yang telah direncanakan. Pada tahap ini perawat menerapkan keterampilan pengetahuan berdasarkan ilmu keperawatan disiplin ilmu lainnya secara menyeluruh. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan rencana keperawatan antara lain fasilitas peralatan yang dibutuhkan, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan. Kemudian perawat mendokumentasikan segala tindakan yang telah dilakukan, disamping sebagai sarana komunikasi antar tim kesehatan lainnya, juga digunakan sebagai bentuk pertanggunjawaban yang telah diberikan (Nursalam, 2001:63).
4. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. (Nursalam, 2001 : 21)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar